1
Mengendarai mobil sendirian di tempat yang belum aku
kunjungi sebelumnya adalah hal terakhir yang inginku lakukan. Jika bukan karena
Phoebe, aku tidak ingin melakukan ini, tapi aku harus melakukannya.
Menurunkan jendela mobil untuk menikmati udara, segar aku
bisa mendengar suara ombak dari kejauhan. Cuacanya sedikit mendung tapi
Pemandangan di setiap sisi Jalan raya menuju Helen’s Bay cukup indah namun
tidak banyak kendaraan di sini. papan bertuliskan Helen’s Bay bisa aku lihat
dari kejauhan, itu artinya tinggal sedikit lagi saja aku menemukan rumah anak
Phoebe.
1 weeks ago…
Berjalan menelusuri lorong rumah mewah, aku melihat di sana
sudah ada mrs. Winslet dan Natalie yang berdiri di depan pintu kayu jati gelap
yang besar. Kenapa mereka belum pulang? Wajah mereka berdua Nampak cemas. Aku
mempercepat langkah kearah mereka berdua.
“selamat pagi mrs. Winslet , Natalie. Kenapa kalian masih di
sini, kalian tidak bersiap untuk pulang?”
Mrs. Winslet dan Natalie saling menatap setelah itu kembali
menatapku.
“Kate, mrs. Wilson kambuh. Semalam ia tidak sadarkan diri
dan sekarang ia sedang di periksa oleh dokter Watson.”
Seketika itu wajahku mulai pucat, ini tidak mungkin terjadi
kondisi Phoebe sudah mulai membaik sejak bulan yang lalu. Aku pikir Phoebe
sebentar lagi akan pulih dan tinggal akan melakukan pengobatan kecil seperti
biasa lagi.
“kemarin sore dia terlihat baik – baik saja, kami bahkan
merajut bersama.”
Natalie mendekat dan menyentuh mengelus pundakku.
“iya tapi tadi malam, suhu badannya naik setelah itu ia tidak
sadarkan diri.”
Pintu kamar Phoebe mulai terbuka dan terlihat dokter Watson
keluar dengan membawa tasnya sambil mengalungkan stetoskop ke lehernya. Kami
bertiga mendekati dokter Watson dan bertanya bagaimana keadaannya.
“ini gejala yang sering datang pada kanker otak, kita harus
memajukan jadwal kemoterapinya aku akan menghubungi kepala perawat kalian dan
akan memindahkan mrs. Wilson ke rumah sakit. yang harus kalian lakukan adalah
terus membuat mrs. Wilson tenang dan jangan biarkan ia stress Karen itu akan
berdamak buruk padanya.”
Setelah menjelaskan apa yang harus kami lakukan dan
memberikan resep obat, dokter Watson
pergi meninggalkan kami bertiga. Mengintip ke dalam kamar aku melihat
Phoebe yang terbaring lemah di atas ranjang yang mewah.
“kasihan sekali mrs. Wilson ia harus menghabiskan masa
tuanya sendirian dan lemah.”
“Natalie..”
Mrs. Winslet menegur Natalie dengan nada yang berbisik.
Natalie benar kasihan Phoebe ia harus menghabiskan masa tuanya sendirian bahkan
selama aku bekerja di kediaman Wilson selama tiga bulan untuk merawat Phoebe
aku tidak pernah melihat ada anggota keluarga Wilson yang datang menjenguknya.
Entah memang Phoebe tidak memiliki keluarga atau ada suatu kesalahan yang di
lakukan Phoebe sehingga membuat keluarganya marah. Tapi Phoebe tidak pernah
mengeluh kepada para perawat disini kalau ia merasa sedih karena tidak ada
keluarga yang menjengknya.
“sebaiknya kalian berdua bersiap pulang, aku yakin semalam
adalah malam yang melelahkan. Aku akan mengurus mrs. Wilson.”
Kami bertiga berjalan kedapur bersama. aku menyiapkan handuk
untuk membersihkan Phoebe sedangkan mrs. Winslet dan Natalie bersiap untuk
pulang.
“kami pulang dulu Kate.”
Mereka berdua memelukku dan pamit pergi. Selang beberapa
menit Bea, pelayan di rumah Phoebe datang membawa dua kantung belanjaan yang
berisi bahan – bahan makanan.
“hi Kate kau sudah datang, apa kau sudah melihat keadaan mrs.
Wilson pagi ini?”
Bea dan aku sanat akrab, walaupun Bea cukup tua denganku
tapi dia adalah tipe orang yang mudah akrab dengan siapa saja. Para pelayan
disini cukup ramah itu yang membuat para perawat rumah sakit yang bekerja di
kediaman Wilson menjadi nyaman.kami para perawat sering sekali bergosip tentang
apa saja yang sudah terjadi di rumah ini. pelayan di sini pernah bercerita dulu
semua keluarga Wilson tinggal disni hingga ada suatu konflik yang membuat
seluruh anggota keluarganya pergi meninggalkan rumah ini dan meninggalkan
Phoebe sendirian.
“ya.. Natalie bilang semalam Mrs. Wilson tidak sadarkan diri
dan tadi dokter Watson datang. Sepertinya, mrs. Wilson akan di pindahkan ke
rumah sakit.”
Aku berbicara pada Bea sambil melipat handuk yang akan aku
bawa ke kamar. Tidak biasanya Bea membeli banyak belanjaan hari ini.
“apa kita akan kedatangan tamu hari ini? sepertinya kau
belanja banyak bahan makanan hari ini.”
Bea tersenyum sambil memindahkan belanjaannya ke dalam
lemari dapur.
“yeah begitulah mr. Taylor bilang anak – anak mrs. Wilson
akan datang hari ini.”
Aku terkejut dan langsung berbalik melihat Bea yang masih
sibuk merapikan belanjaan.
“benarkah? Itu jarang sekali terjadi.”
“ya begitu lah, aku harus cepat karena mereka akan datang
siang ini.”
Membawa handuk, aku barjalan di lorong menuju kamar Phoebe.
Aku harus membuat dirinya cantik hari ini. karena anak – anaknya akan datang
berkunjung. Phoebe bilang dia dulu adalah wanita yang elegan. Ia selalu tampil
cantik, ia sering sekali bercerita padaku kalau keluarganya selalu di pandang
dan itu yang membuat dia harus menjaga image keluarganya. Phoebe juga pernah
menunjukkan foto – fotonya sedang bersama dengan anak – anaknya. Di dalam foto
itu Phoebe memang terlihat cantik dan elegan ia memiliki tiga putra dan satu
putri, anak – anak mereka sangat manis.
Setiap kali phoebe bercerita padaku tentang keluarganya, itu
selalu membuatku ingat akan keluargaku yang telah tiada saat aku masih sekolah.
Mengingatkan aku pada saat – saat kebersamaanku dengan ayah, ibu.
Membuka pintu kayu dengan perlahan aku melihat Phoebe yang
terbaring lemah disana. Phoebe memiliki
kamar yang sangat mewah letak kamarnya berada dekat dengan danau. Letak
kamar Phoebe adalah spot yang pas untuk melihat matahari terbenam dan terbit.
Tetapi pemendangan itu sepertinya sudah tidak berguna lagi bagi Phoebe, karena
baginya seindah apapun pemandangan dan rumah yang dimilikinya ia berfikir itu
tidak membuatnya bahagia. Karena dia harus melihatnya seorang diri.
“selamat pagi Phoebe..”
Berjalan melewati ranjangnya mendekati jendela yang besar
aku membuka tirai kamarnya agar cahaya pagi dapat masuk menghangatkan dirinya.
“Kate apa itu kau?”
Phoebe yang masih terbaring memanggil namaku dengan suara
yang lemah. Aku berjalan mendekati ranjangnya.
“hi Phoebe bagaimana perasaanmu hari ini?”
“lemah dan tidak berdaya”
Phoebe menjawab
dengan santainya.
“tapi apa kau tau Kate, semalam aku bermimpi aku berjalan
menelusuri pantai di Hawaii. Aku merasa sehat dan aku bisa merasakan pasir
lembut itu menyentuh kakiku hingga dokter Watson yang menyebalkan datang
mengganggu mimpiku yang sangat indah dan memaksaku untuk pergi dari rumahku
sendiri. Aku tidak percaya dia melakukan itu.”
Dalam keadaannya yang seperti ini Phoebe masih saja sempat
menceritakan mimpinya dan bercanda. Aku tersenyum dan membersihkan dirinya
dengan handuk hangat.
“dokter Watson bukan mencoba mengusirmu Phoebe, ia ingin kau
untuk pindah ke rumah sakit agar kau bisa di obati dan cepat sembuh. Dia adalah
dokter yang baik.”
“aku tidak ingin ke rumah sakit, aku tidak suka aromanya.”
Mengerutkan keningku heran. “memang ada apa dengan
aromanya?”
“aroma di sana seperti aroma orang tua”
terhibur melihat tingkah konyol Phoebe aku tertawa.
“kenapa kau tertawa Kate?”
“Phoebe apa kau tidak sadar kau ini sudah berapa tahun?”
“Katie, aku ini memang tua tapi aku memiliki jiwa yang
sangat muda.”
Aku tersenyum lebar
melihat kepercayaan diri Phoebe. Aku salut melihat dirinya, walaupun penyakit
ganas menyerangnya tapi Phoebe selalu menasehatiku untuk terus berbuat baik dan
jangan pernah menyalahkan tuhan atas apa yang telah terjadi pada diri kita.
Aku jadi teringat tentang apa yang sudah di bicarakan Bea
tadi kalau keluarganya akan datang, apa Phoebe sudah mengetahuinya?
“oh ya, aku dengar anak – anakmu akan datang menjengukmu.
Apa kau sudah mengetahuinya?”
Phoebe langsung cemberut dan terlihat tidak berselera untuk
membahas hal ini.
“um.. kau tidak perlu menjawabnya Phoebe.” Aku tersenyum
ramah dan berbalik meletakkan handuk.
“entahlah Kate, seharusnya aku merasa senang mereka akan
datang. Tapi aku merasa mereka terpaksa melakukannya.”
Aku penasaran apa maksud yang di katakan Phoebe, mengerutkan
dahiku aku kembali mendekati Phoebe yang sedang menatap langit – langit
kamarnya.
“kenapa kau berkata
seperti itu, Phoebe?”
Phoebe menghela nafas dan menyilangkan tangannya yang sudah
berkeriput dan kurus ke depan dadanya.
“aku sudah lama di tinggalkan oleh mereka, tapi kenapa baru
hari ini mereka datang berkunjung?”
Aku merasa kasihan pada keadaan Phoebe. Aku ingin bertanya
apa yang terjadi hingga ia harus kesepian seperti ini, tapi aku tidak ingin
membuat dia sedih karena harus mengingat masa lalu. Jadi aku mencoba untuk
mengganti topik pembicaraan.
“jadi mrs. Wilson karena akan ada tamu yang berkunjung hari
ini kau harus terlihat cantik, apa yang ingin anda kenakan kali ini mrs ?”
Phoebe tersenyum lebar padaku sepertinya ia tau aku sedang
mengganti topik pembicaraan.
“buat mereka terkesan
ms. Baldwin.”
Selesai dengan pekerjaanku mengurus Phoebe aku pergi ke
dapur untuk mengecek apakah Bea membutuhkan bantuan. Kulihat dari jendela Mobil
– mobil mewah sudah terpakir di depan
halaman rumah yang luas. Apa mereka sudah datang? Mempercepat langkahku ke
dapur aku melihat Bea yang sedang lihainya memotong sayuran. Sepertinnya ia
sedang kerepotan, jadi aku datang mendekatinya.
“Bea apa kau membutuhkan bantuan?”
Bea menatapku lalu kembali lagi pada sayurannya.
“syukurlah kau datang bisakah kau membuatkan kopi? Anak –
anak mrs. Wilson sudah datang.”
“tentu saja.”
Aku bergegas mengambil air dan menyiapkan kopinya di
cangkir. Setelah semuanya sudah siap aku membawa kopi – kopi ini ke area
keluarga. Entah mengapa aku merasa gugup karena harus bertemu dengan anak –
anak Phoebe. Seperti apa mereka?
Masuk ke ruang keluarga aku melihat dua putra dan satu putri
Phoebe duduk di sofa mendengarkan mr. Taylor berbicara tentang topik yang tidak
aku mengerti. Putri Phoebe terlihat sangat cantik mengenakan gaun biru sederhana
tapi indah dengan rambut pirangnya yang di sanggul. Ternyata putra bungsu
Phoebe masih sangat muda ia terlihat tampan mengenakan setelan casual
sepertinya ia maasih bersekolah dan pria yang lebih tua dari mereka berdua
terlihat rapi mengenakan setelan formal sambil menatap mr. Taylor dengan sangat
serius.
Tiba – tiba saja tatapan mereka berpindah kepadaku yang
sedang membawa nampan berisikan cangkir – cangkir kopi, aku merasa perlahan
kakiku mulai berubah menjadi marsmellow yang lembut. aku harus tetap membuat
cangkir – cangkir ini tetap berada pada tempatnya.
Mr. Taylor merasa ia teralihkan oleh sesuatu yang lain
langsung berbalik dan melihatku yang mematung di depan seperti gadis bodoh.
Mencoba menyingkirkan batu di dalam tenggorokkanku dan mulai berbicara.
“um.. aku membawa kopi mr. Taylor.”
Mr. Taylor bangkit dari sofanya dan membantuku membawa
cangkir – cangkir kopi.
“Kate. Kau tidak perlu melakukan ini, di mana Bea?”
“Bea sedang menyiapkan makan siang dan aku hanya ingin
membantunya.”
Mr. Taylor mengangguk ramah padaku dan beralih pada anak –
anak Phoebe yang masih menatapku.
“perkenalkan ini Katherine Baldwin ia adalah perawat yang
selama ini merawat ibu kalian, diantara para perawat yang bekerja di sini Katelah
yang paling dekat dengan mrs. Wilson.”
Mereka semua nampak terkejut mendengar perkataan mr. Taylor
dan putra Phoebe yang lebih tua bangkit dan memberikan ku jabatan tangan.
“aku tidak menyangka ibuku bisa dekat dengan seseorang.
Perkenalkan Ethan James Wilson.”
Dia tersenyum padaku saat aku membalas jabatan tangannya.
Astaga, tangannya besar sekali. Aku tersenyum gugup padanya. Rasanya aku ingin
menghilang begitu saja kali ini. aku gugup sekali.
“Katherine Baldwin.”
Putra Phoebe yang paling muda bangkit dan tersenyum padaku
sambil memberikan jabatan tangannya juga.
“itu berarti orang ini adalah orang yang luar biasa hingga bisa menjadi
teman dekat seorang nyonya Wilson. Kevin James Wilson, senang bertemu denganmu
ms. Baldwin”
Kevin menjabat tanganku dan tersenyum manis dia sangat
tampan dan terlihat sangat ceria.
“panggil saja aku Kate.”
“senang bertemu denganmu Kate.”
Setelah itu aku beralih ke putri Phoebe yang terlihat sedang menunggu ingin menyapaku
juga. Ia terlihat seumuran denganku dan terlihat sangat mirip dengan Phoebe, dia
terlihat seperti Phoebe yang masih muda. tiba – tiba saja ia menarikku lalu memelukku
hangat.
“terima kasih telah merawat ibuku Kate, aku senang kau ada
di sini. aku Louisa Rose Wilson.”
“terima kasih kembali ms. Wilson aku merasa sangat terhormat
bisa bekerja di sini.”
“panggil saja aku Loui.”
Loui mengusap lenganku dan tersenyum lebar.
“Kate, apa Mrs. Wilson sedang beristirahat karena mereka ingin
bertemu dengannya.”
“tidak ia sedang merajut di kamarnya apa ingin aku bawa
beliau ke sini?”
“-“
“tidak perlu biar kami saja yang datang ke kamarnya”
Ethan lebih dulu menjawab pertanyaanku sambil menatap mr.
Taylor. Mr. Taylor pun mengangguk mengerti.
“itu benar Kate, kami tidak ingin mengganggunya.” Loui
berbicara ramah padaku dan aku mengangguk mengerti.
Aku dan mr. Taylor memberikan jalan pada mereka bertiga, aku
merasa sepertinya ada yang kurang. aku melihat mr. Taylor dengan malu – malu.
“ada apa Kate?”
Aku bertanya dengan suara berbisik padanya. “um.. bukankah
mrs. Wilson memiliki empat anak.”
“putra sulungnya berhalangan datang.” Mr. Taylor menjawab
dengan nada profesional.
Dengan itu aku berjalan mengikuti mr. Taylor kearah dapur
dan membantu Bea yang sedang memasak.
Hari sudah sore ini waktunya aku untuk pulang kerumah. Hari
ini adalah hari yang sangat panjang dan cukup baru bagiku. Aku tidak menyangka
kalau anak – anak phoebe sangat baik dan ramah. Mereka bahkan mengjakku untuk
makan siang bersama.
Aku sangat senang bisa makan siang bersama mereka dan Phoebe
juga tampak senang, kami semua sempat tertawa mendengar guyonan Kevin. Kevin
anak yang baik dan sangat mudah akrab dengan siapa pun.
Dia malahan sempat mengganggu Bea di dapur. Ethan sibuk
berbicara dengan Taylor tentang persiapan Phoebe yang akan pindah kerumah sakit
untuk rawat inap di sana, sedangkan Loui membantuku membersihkan tubuh Phoebe
dan memberinya obat. Kami bertiga sempat jalan –jalan dan saling bercerita.
Ternyata Loui sedang hamil dua bulan dengan kekasihnya yang
sedang berada di Florida. Phoebe sudah mengetahuinya sejak minggu pertama
kehamilan Loui dan Loui bilang ia akan mengajak Ford kekasihnya untuk datang ke
rumah sakit untuk meminta restu dari Phoebe untuk menikah.
Anak – anak Phoebe sangat hormat kepadanya. Sayang, putra
sulungnya berhalangan hadir kesini jika dia datang pasti akan sangat lengkap.
Saat ini aku, Phoebe, Bea, dan mr. Taylor sedang berada di
halaman untuk melihat anak – anak Phoebe pulang. Mereka bertiga memeluk Phoebe
yang duduk di kursi roda.
“semoga kau dapat menghubungi dirinya nak.”
“aku akan terus mencobanya ibu.”
Ethan memeluk Phoebe sambil mengucapkan janji dan mengatakan
pada Phoebe untuk jangan khawatir.
“aku takut aku tidak akan sempat mengucapkan permintaan maaf
padanya,”
Phoebe berbicara lemah pada ketiga anaknya dia terlihat
sedih. Apa dia sedang membicarakan putra sulungnya yang tidak datang?
“aku dan Loui sudah pernah mendatanginya ibu tapi hasilnya
tetap sama, dia sangat keras kepala.”
Kevin berbicara pada Phoebe dengan nada pasrah. “tapi tenang
saja bu kami akan terus berusaha.”
“iya ibu yang harus ibu lakukan adalah ibu harus terus
menjalani pengobatan dengan baik agar ibu bisa sembuh.”
Loui berlutut dan merapikan selimut yang ada di tubuh Phoebe
lalu mencium keningnya.
Setelah semua pamit pada kami semua aku membawa Phoebe masuk
kedalam. Ia tampak sedih dan murung.
“Phoebe apa kau ingin duduk di depan perapian.” Aku bertanya
ramah pada dirinya.
“bolehkah aku meminta secangkir teh hangat juga Kate.”
Phoebe mengangkat kepalanya dan menatap padaku aku tersenyum
padanya sambil mendorong kursi roda ke ruang tengah.
“aku akan kedapur sebentar membuatkan teh untuk mu.”
Aku berjalan ke belakang meninggalkan Phoebe yang diam
menatap kosong ke arah perapian. Di dapur sudah ada mrs. Winslet dan Natalie
disana yang sedang asik berbincang - bincang dengan Bea.
“dan mereka mengajak Kate untuk makan siang.”
“benarkah?, Kate beruntung sekali bisa makan siang dengan
putra mrs. Wilson.”
Aku memutar kedua bola mataku melihat tingkah mereka yang
konyol sambil sibuk membuat teh untuk Phoebe. Mereka berdua berbalik menyadari
kedatanganku dan langsung menyerangku dengan banyak pertanyaan.
“Katie.. bagaimana rasanya bisa makan siang bersama mereka?”
“bagaimana wajah mereka?”
Yang aku lakukan adalah menggeleng – geleng kepala dan tidak
menghiraukan pertanyaan mereka.
“KATIE!”
Mereka berdua merengek dan menyebut namaku kesal. “kawan –
kawan tidak ada yang spesial, mereka hanya mengajakku makan siang bersama untuk
mengucapkan rasa terima kasih karena telah merawat mrs. Wilson itu saja.”
“lalu bagaimana rasanya?”
Mrs. Winslet bertanya dengan wajah penaasarannya.
“luar biasa, mereka semua sangat baik.” Mengangkat bahuku.
“apa mr.William datang?” Bea bertanya sambil mengaduk kopi
di mugnya. Mr. William siapa dia? Tadi tidak ada yang namanya William. Oh ya
aku baru ingat dia pasti putra sulung Phoebe.
“William putra sulung mrs. Phoebe maksudmu?”
Bea mengangguk “iya tentu saja. Apakah dia datang?”
Aku menggeleng sambil meletakkan cangkir teh ke dalam
nampan. “tidak. mr. Taylor bilang dia berhalangan hadir.”
“aku sudah menduganya.”
Apa maksud dari perkataan Bea? “apa maksudmu?”
“kau tau setiap Wilson bersaudara datang kerumah. William
tidak pernah datang kembali sejak ia pergi meninggalkan rumah ini dan tidak ada
yang tahu apa penyebabnya.”
Aku pergi meninggalkan mereka yang tengah sibuk berbincang –
bincang sambil memikirkan keluarga Phoebe. Sudah banyak sekali apa yang terjadi
di rumah ini. pasti Phoebe sudah menjalani hidup yang cukup berat.
Memasuki ruang tengah aku melihat Phoebe yang masih tetap
melamun di depan perapian. Menyentuh pundakknya dan memberikan teh hangat
padanya.
“Phoebe apa kau ingin pindah ke kamar atau ingin tetap berada
disini?”
“apa kau ingin pergi?” Phoebe bertanya padaku.
Aku tersenyum dan berlutut menatapnya. Aku bisa melihat raut
kesedihan di balik wajahnya yang berkeriput.
“iya tapi kau tenang saja mrs. Winslet dan Natalie akan
berada di sini menemanimu, seperti biasa.”
“baiklah kalau begitu aku ingin pergi ke kamar saja.”
Dengan itu aku mendorong kursi roda Phoebe ke kamar dan
meletakkan dirinya ke ranjangnya yang besar. Aku tidak bisa pulang dengan
melihat dia seperti ini, ada apa denganya? Bukankah seharusnya dia senang
karena anak – anaknya baru saja datang mengunjungi dirinya.
Ke esokan paginya aku menjalani pagi yang biasa,
menggantikan mrs. Winslet dan Natalie menjaga Phoebe. Sebelum masuk ke kamar
aku mempersiapkan handuk hangat untuk membersihkan Phoebe saat hendak berbalik
Natalie berlari ke arahku dengan raut wajah panik.
“Nat ada apa?” aku langsung bertannya padanya.
“detak jantung mrs. Wilson berkurang suhu badannya panas
sekali. aku akan segera menelpon dokter Watson.”
Aku berlari ke kamar dan melihat mrs. Winslet yang sedang
memasang infus dan masker oksigen.
“dia bilang dia sesak nafas jadi aku memasangkan masker
oksigen untuk dia, apa Natalie sudah menelpon dokter Watson?”
“dia sedang melakukannya.”
Aku mendekati Phoebe dan menggenggam tangannya sangat erat
dan berdoa agar Phoebe baik – baik saja. Entah mengapa aku merasa belum saatnya
Phoebe untuk pergi.
“Phoebe ini aku Kate, kau harus kuat Phoebe.”
Selang beberapa menit dokter Watson datang dengan membawa
ambulans dan memutuskan untuk membawa Phoebe di rumah sakit untuk di rawat.
Sesampai di rumah sakit aku membantu dokter Watson melakukan pekerjaannya.
Dan saat ini Phoebe sedang berada di ICU untuk di tangani.
Aku dan mr. Taylor menunggu dalam rasa kekhawatiran. Mr. Taylor mendekatiku dan
menggenggam tanganku di dalam matanya ia terlihat sangat khawatir dengan
keadaan majikannya ini.
“Kate aku mengucapkan sangat sangat terima kasih atas apa
yang telah kau lakukan pada Phoebe. Apapun yang telah Ia lakukan padamu kau
harus tahu ia adalah wanita yang baik hati kau harus ingat itu.”
Bingung dengan apa yang dikatakannya aku membalas genggaman
tangan mr. Taylor dan menenangkan dirinya.
“Mr. Taylor apa yang kau bicarakan? Phoebe akan baik – baik
saja kita harus yakin dia akan baik – baik saja.”
Aku kembali ke kediaman Wilson untuk mengambil kebutuhan
Phoebe di rumah sakit dan kembali ke rumah sakit setelah beberapa jam kemudian.
Ternyata Phoebe sudah di pindahkan ke ruang inap. Di sana aku melihat Phoebe
yang pucat dan terbaring lemah di sana.
memasuki ruangan Phoebe yang di temani dengan suara alat
rumah sakit yang berbunyi aku duduk di samping ranjang Phoebe lalu menggenggam
tangannya.
“hi Phoebe.. bagaimana perasaanmu saat ini?”
Phoebe mencoba menggerakkan matanya, ia terlihat pucat dan kurus.
“sekarat.” Sedih melihat kondisi Phoebe saat ini, membuatku
mengingat tentang ibuku saat itu. Dari sekian banyak pasien yang aku urusi,
keluarga Wilson adalah keluarga yang paling menyentuh hati. Ada banyak sekali
cerita yang tersembunyi di sana, juga karakter dari Phoebe sendiri yang membuat
bekerja dengan keluarga Wilson menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa.
“aku akan pergi mengurus sesuatu sebentar dan akan kembali
menemanimu beberapa jam lagi, okay?”
“Kate aku membutuhkan bantuanmu, sayang.”
Aku yang hendak bangkit kembali duduk dan mendengarkan apa
yang di inginkan oleh Phoebe. jeda beberapa menit Phoebe masih belum
mengeluarkan suara. Tapi, ia mengangkat sebelah tangannya dan memberikanku
secarik kertas kecil padaku.
“Phoebe apa ini?”
Phoebe berusaha untuk berbicara dan mulai mengeluarkan suara
kecil. Mendekatkan telingaku padanya untuk mencoba mendengar dengan jelas apa
yang di katakannya.
“cari dan.. bujuklah dia.. untuk.. datang”
Tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan aku mematung
menatap Phoebe yang terbaring lemah. Phoebe menatap kertas yang ada di
genggamanku. Aku membuka secarik kertas yang diberikan Phoebe dan isinya adalah
sebuah alamat. Aku menatap Phoebe bingung.
“William. Namanya William James Wilson. Temukan dia. Dia
adalah, putra sulungku. Aku harus segera menemuinya Kate. kupikir aku sudah
sangat sekarat kali ini Kate.”
“Phoebe kau tidak boleh berbicara seperti itu.”
“pergilah minggu ini.. aku ingin.. sekali bertemu dengan
dirinya.”
Ke esokan harinya anak – anak Phoebe datang ke rumah sakit
dan melihat bagaimana kondisi ibu mereka. Phoebe bercerita pada mereka jika aku
akan datang ke Helen’s Bay untuk membawa Will ke sini untuk melihat ibunya.
Awalnya, mereka terkejut tapi Phoebe bilang pada mereka mungkin saja jika orang
lain yang membujuk dirinya, ia bisa saja mau untuk datang sebentar walaupun
hanya melihat kondisi Phoebe saja, Phoebe juga akan menerimanya.
Yang ia inginkan saat ini adalah, berada dekat dengan
anaknya. Hari berikutnya aku menghabiskan hari dengan Phoebe dan Loui. Ia
datang dengan membawa kekasihnya, Phoebe sangat senang bisa bertemu dengan pria
yang mencintai putrinya ini. mereka berdua sangat serasih, kekasih Loui juga
sangat sopan dan baik.
Meletakkan tasku ke dalam mobil, Bea, Natalie, dan mrs.
Winslet menatapku aneh. Mereka bertiga nampak sedih.
“ini hanya beberapa hari, minggu depan mungkin aku sudah
kembali ke California lagi.”
Bea mendekatiku sambil membawa paperbag yang berisi makanan
ringan buatannya. Wajahnya seperti ia ingin mengatakan sesuatu.
“katakan saja Bea, ada apa?”
“um.. apa kau yakin Kate ingin pergi menemui tuan William?”
Aku mengagguk “tentu saja ada apa memangnya?”
Bea menggaruk belakang lehernya yang sepertinya tidak terasa
gatal.
“dia itu sosok yang sangat dingin Kate. kau tau, ketika ia
masih tinggal disini ia selalu bertengkar dengan anggota keluarga di sini.”
Aku tersenyum dan mencoba berfikir semua akan baik – baik
saja.
“itukan dulu Bea, bisa saja ia sudah berubah menjadi lebih
ramah.”
“aku meragukan itu Kate.”
Senyumku luntur seketika melihat keyakinan Bea akan sikap
William. Ya ampun Bea, apa kau mencoba untuk menghancurkan rasa percaya diriku
ini? jika iya. kau sama sekali tidak membantu.
Mengalihkan pandanganku pada Natalie dan mrs. Winslet aku
melihat mereka masih menatapku sedih.
“tenang saja semua akan baik – baik saja.”
Aku memeluk mereka bertiga dan mengucapkan selamat tinggal.
Menurunkan kaca mobilku aku menatap mereka untuk yang terakhir kalinya. Selama
seminggu kedepan aku tidak akan mendengar gosipan mereka bertiga. Pasti akan
sangat sepi sekali.
“kami akan mendoakanmu yang terbaik Kate.” Natalie berteriak
padaku.
Mrs. Winslet melambaikan tangannya padaku “semoga kau
berhasil, sayang”
Dengan itu aku menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan
kediaman Wilson menuju ke Bandara.
Today
Helen’s Bay tidaklah buruk, tempat ini memiliki pantai yang
indah. Dalam perjalanan aku menemukan seorang pria tua yang tengah sibuk
memindahkan kotak ke dalam truk pick up. Mematikan mesinku, aku mendekati dia
untuk bertanya alamat yang di berikan Phoebe.
“selamat sore, hi aku Kate. um, bisakah kau memberi tahuku
di mana arah alamat ini?”
Pria tua yang sedang sibuk mengangkat kotak, meletakkan
kotaknya dan mengambil kertas alamat yang aku pegang.
“yah.. aku tau tempat ini. tapi, sepertinya kau tidak bisa
ke sana menggunakan mobil nak. Kau harus berjalan kaki sedikit jika ingin
memasuki wilayahnya.”
Ya ampun. Apakah orang ini serius. Semoga saja tidak terlalu
jauh.
“um.. apakah membutuhkan waktu yang lama untuk bisa sampai.”
“tidak. hanya memakan waktu beberapa puluh menit saja untuk
bisa sampai kesana. Aku bisa membantumu sampai kesana kebetulan tempat itu
berada dekat dengan tempatku.”
Apakah dia bisa di percaya? Dewi batinku memperingatkanku
dan aku mencoba untuk menyuruhnya diam. Kate apa yang kau pikirkan. Menurutku
itu ide yang bagus.
“um.. aku akan sangat berterima kasih padamu tuan..”
Pria ini memberikan
ku jabatan tangan lalu menyebutkan
namanya.
“Duncan. Duncan Osborn”
Aku membalas jabatannya dan tersenyum. “senang bertemu
denganmu tuan Duncan. Dan terima kasih atas bantuannya. Aku Kate. Katherine
Baldwin.”
“tapi apa kau bisa menunggu sebentar karena masih ada
beberapa kotak yang harus aku pindahkan.”
“tentu saja.”
Tuan Duncan berbalik lalu melanjutkan pekerjaannya
mengangkat kotak – kotak yang tersisa.
“jadi ms. Kate.”
“panggil saja aku Kate.”
“Jadi Kate.. kau orang Amerika?”
Tuan Duncan bertanya padaku sambil mengangkat kotak dan
memindahkannya ke dalam truknya.
“ya. Aku berasal dari California tepatnya.”
“itu tempat yang jauh Kate. apa yang membuatmu datang jauh
dari California ke Helen’s Bay?”
“um.. aku ingin menemui seseorang.”
Tuan Duncan meletakkan kotak terakhir dan berbalik melihatku
yang duduk di bagian depan mobil.
“aku tidak tahu kalau Willie mempunyai kekasih.”
Willie? Apa maksudnya William? Tertarik aku bangkit dari
dudukku dan mendekati tuan Duncan.
“apa maksudmu William?”
Tuan Duncan melepaskan sarung tangannya dan memasukkannya ke
dalam saku lalu mengangguk. “ya William, alamat yang kau berikan itu bukankah
itu alamat William James Wilson? Aku tidak tahu jika ia memiliki kekasih.”
Sepertinya tuan Duncan terlalu cepat mengambil kesimpulan.
“um.. aku bukan kekasihnya. Kami bahkan tidak saling kenal.”
Tuan Duncan langsung memasang wajah bingung. “lalu?
Bagaimana..”
“aku adalah perawat yang bekerja di kediaman keluarganya dan
keluarganya mengutusku untuk membujuknya kembali ke California.”
Mendengarnya tuan Duncan mengangguk mengerti. “itu berarti
kau sedang mendapatkan tugas besar nak.”
Yah.. aku pikr juga begitu. Aku tersenyum malu padanya.
Saat ini aku sedang di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan
menuju ke rumah William. aku harap dia bisa menerimaku dan mau berbicara.
Aku masih memikirkan apa yang akan aku katakan padanya untuk
bisa membuat dirinya mau kembali ke California. aku bahkan belum mengetahui
masalahnya apa.
Jalanan menuju rumah William cukup sepi dan gelap, mungkin
karena di sisi kanan dan kirinya di penuhi dengan pohon – pohon.
Tiba – tiba saja truk tuan Duncan berhenti dan aku melihat
ia keluar dari truknya. Akupun ikut turun, sepertinya inilah saatnya.
“maaf nak, aku hanya bisa mengantarmu hingga sampai sini
saja. Kau bisa memarkirkan mobilmu di sini sebelah sana ada pondok dan itu
adalah rumahku mobilmu akan baik – baik saja disini.”
Tuan Duncan menunjuk ke arah yang dimaksud dan dari sini aku
bisa melihat pondok sederhana disana. Aku memanggut dan bertanya arah di mana
rumah William.
“um okay, di mana arah rumah William?”
“oh ya.. kau jalan saja kearah sana. Kau tinggal jalan
sedikit saja lagi dan kau akan menemukan rumah Willie.”
Aku memanggut lalu mengucapkan terima kasih pada tuan Duncan
dan mengatakan padanya kalau aku akan kembali beberapa jam lagi.
Aku berjalan memasuki jalan setapak yang di sisi kanan dan
kirinya di penuhi dengan pohon – pohon. Dari kejauhan aku bisa melihat rumah
besar.
Seluruh bangunannya dibuat dengan kayu bernuansa coklat dan
Di sisi kanannya ada jembatan yang terhubung dengan rumah pohon yang cukup
sederhana tetapi sangat indah.
Walaupun jalan menuju ke sini cukup kecil tetapi bila sudah
memasukinya kau bisa melihat rumah yang indah dan berdesain sangat unik.
Aku seperti menemukan istana kecil di dunia dongeng.
Berjalan menuju pintu aku bisa mendengar suara ombak yang saling melambai
tertiup angin.
Apa bagian belakang rumah ini adalah laut? Ya ampun pasti di
dalam sana indah sekali. Sibuk melihat suasana rumah ini, membuatku menjadi
lupa akan alasanku datang kesini.
Menarik nafas dalam aku mengangkat tanganku dan menekan bel
pintu secara perlahan. Ya ampun, aku masih tidak percaya aku sudah melakukan
ini. sebelumnya, aku tidak pernah ikut
campur kedalam urusan pasien – pasienku.
Namun sekarang lihatlah aku saat ini berada di mana sekarang.
Saat ini aku sedang berada di rumah seorang Putra dari
pasienku. Untuk apa aku melakukan ini?
Aku bisa mendengar suara kayu berdecit dari dalam dan
suaranya semakin dekat dan dekat. Kenop pintu bergerak lalu dengan perlahan
terbuka dan memberikanku pemandangan yang sangat.. uh- aku tidak bisa
mengungkapkannya.
Seorang pria bertubuh besar yang bertelanjang kaki dan
mengenakan celana sedengkul berwarna khaki dengan menggunakan t-shirt gelap
menyipitkan mata birunya sambil menatap diriku bingung.
“ada yang bisa ku bantu?”
Pria ini mengeluarkan suara beratnya dan membuat
tenggorokanku berhenti bekerja dan membuat kakiku secara perlahan berubah
menjadi marshmellow.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar